Dating With Ichi (Edisi Po Panda)

Rencananya hari Sabtu kemarin cuma mau minta suami nemenin makan Sushi, tapi tiba-tiba adik saya datang dan memberitahu kalau pacarnya mau nonton film Kungfu Panda 3 di Mall Artha Gading. Berhubung saya termasuk penggemar beratnya Po dan udah lama juga enggak ngajak Ichi nonton di bioskop, akhirnya saya mengubah rencana dan mengajak suami untuk bersama-sama ke bioskop.

Tepat beberapa menit sebelum berangkat, suami tiba-tiba membatalkan rencana dengan alasan harus memberikan les pengganti minggu lalu. Bete? Pastinya. But the show must go on, apalagi Ichi sudah diinfo, dan dia akan membalikkan kata-kata yang saya ajarkan setiap saat dia menolak melakukan apa yang telah ia janjikan “promise is a promise“. Akhirnya, berangkatlah saya dan Ichi. Mom and son’s dating, seperti yang sering kami lakukan sebelum Yoshie dilahirkan.

Tiba di parkiran lantai enam Mall Artha Gading, masih banyak tempat kosong untuk si Mirage. Saya pun beruntung bisa parkir tidak jauh dari pintu masuk bioskop. Kami langsung bergegas menuju antrean loket tiket secara jarum jam sudah menunjukkan 15 menit lagi pertunjukan akan dimulai. Tiba di depan loket, ternyata kursi favorit sudah diambil orang, hiks. Untungnya masih ada dua kursi di bagian tengah atas untuk kami berdua dan saya memutuskan langsung membelinya.

Sambil menunggu pintu studio dibuka, saya menunggu sambil memerhatikan Ichi bergaya sana dan sini hingga tiba-tiba ia menunjuk salah satu display film Kungfu Panda 3 dan meminta saya untuk mengambil foto dirinya dengan latar poster Po si Panda. Tepat setelah memotret, pintu studio dibuka dan kami masuk ke dalamnya.

IMG_8922

“Kita dapat kursi nomor C9 dan C10. Ichi lihat huruf ini sampai huruf C ya.” Saya menunjuk urutan huruf yang tertera di samping kursi menandakan barisan kursi tempat kami berada.

Ichi pun mengikuti arahan saya dan dengan bangga menemukan huruf C sesuai nomor tiket kami, “Di sini, ma, di sini huruf C.”

“Nah, sekarang Ichi cari angka 9 dan 10 yang ada di kursi.” Saya kembali memberi contoh nomor yang ada di kursi paling ujung. Ichi dengan semangat kembali melihat nomor kursi dan dengan mudah menemukannya, “Di sini, ma, nomor 9. Ichi nomor 9, mama nomor 10 ya.” Dan dengan cekatan duduk di kursinya.

Tapi bukan Ichi namanya kalau berhenti bertanya sebelum film dimulai.

“Ma, kok lampunya nggak mati sih? Ichi kan silau.”

“Iya, nanti kalau orang-orang udah duduk di kursinya dan film udah mau dimulai baru lampunya dimatikan.”

“Ma, Ichi lagi batuk jadi Ichi nggak mau makan popcorn.”

“Iya, Ichi minum air yang mama bawa aja ya.”

Dan sampai berbisik ketika ada tanda dilarang bicara, “Ma… nggak boleh main handphone. Harus dimatiin.” Dan lampu akhirnya mati dan Ichi dengan tenang menonton film.

Saya tidak sadar tertidur di tengah-tengah pertunjukan dan bangun dengan terkejut memastikan Ichi masih di kursinya dan merasa lega karena melihat Ichi tertawa mengikuti jalan cerita film. Fiuh, mama kira Ichi yang bakalan tidur, hiks. Dan puji Tuhan semua berjalan lancar sampai film selesai.

Selesai menonton, setelah membeli keperluan Yoshie, bermain sebentar di Amazon, menikmati es krim Singapore, kami bergegas pulang untuk menemui Cece Abby dan Henokh yang udah nggak sabar menanti Ichi tiba di rumah.

Well done, Ichi! Can’t wait for another dating!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s